s='cap-left'/>
Kamis, 30 Oktober 2014

Sunnah di Bulan Muharram



Hari Asyura adalah hari yang mulia. Rasulullah saw memerintahkan untuk berpuasa pada hari ini. Disebutkan dalam sebuah hadits shahih, dari Abu Qatadah ra bahwa dia berkata, “Rasulullah saw bersabda:
ثَلاَثٌ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ فَهَذَا صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَه

‘Puasa tiga hari setiap (pertengahan) bulan, puasa dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya sama dengan puasa setahun penuh. Puasa pada hari Arafah, aku memohon pula kepada Allah, agar puasa itu bisa menghapus dosa setahun penuh sebelumnya dan setahun sesudahnya. Adapun puasa pada hari Asyura, aku memohon kepada Allah agar puasa tersebut bisa menghapus dosa setahun sebelumnya’.”[1]

Ibnu Abbas berkata, “Aku tidak pernah melihat Nabi saw sengaja berpuasa pada suatu hari yang beliau istimewakan dibanding hari-hari lainnya kecuali hari Asyura dan bulan ini, yaitu bulan Ramadhan.”[2]

Jika demikian, perbuatan yang disunahkan pada hari Asyura adalah berpuasa saja. Rasulullah saw telah berpuasa pada hari itu dan memberitahukan keutamaannya, sebagaimana disebutkan di hadits tersebut. Beliau  memerintahkan agar puasa tersebut ditegakkan.

Hadits-hadits shahih telah menyebutkan hal ini:

1.    Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra, ia berkata, “Orang-orang pada masa Jahiliah berpuasa di hari Asyura. Rasulullah saw dan kaum muslimin juga melakukannya sebelum diwajibkan puasa Ramadhan. Ketika puasa Ramadhan diwajibkan, Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

‘Hari Asyura merupakan hari di antara hari-hari Allah, maka siapa yang ingin berpuasa hari itu silakan, dan siapa yang tidak, maka tidaklah mengapa.”[3]

2.    Ibnu Abbas ra berkata, “Ketika Nabi saw telah sampai dan tinggal di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi melaksanakan puasa hari Asyura, lalu beliau bertanya, ‘Mengapa kalian mengerjakan ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah hari kemenangan; hari ketika Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, lalu Nabi Musa as menjadikannya sebagai hari berpuasa.’ Maka Beliau bersabda, ‘Aku lebih berhak daripada kalian terhadap Musa.’ Beliau setelah itu memerintahkan untuk berpuasa.” Di riwayat yang lain darinya, “Rasulullah saw memerintahkan puasa Hari Asyura pada hari kesepuluh.”[4]

3.    Abdullah bin Abbas meriwayatkan saat Rasulullah saw berpuasa pada hari Asyura dan juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.” Maka Rasulullah saw bersabda, “Pada tahun depan insyâ Allâh, kita akan berpuasa pada hari ke sembilan (Muharam).” Namun, pada tahun tersebut Rasulullah saw wafat.” Di riwayat yang lain disebutkan, “Jika tahun depan aku masih hidup, aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Muharam).”[5]   Diriwayatkan juga darinya bahwa dia berkata, “Rasulullah saw bersabda:
صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا وَ بَعْدَهُ يَوْمًا

‘Berpuasalah kalian pada hari Asyura dan selisihilah kaum Yahudi. Berpuasalah satu hari sebelum dan sesudahnya’.”[6]

Para ulama menyebutkan bahwa puasa Asyura itu dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu:
a)    Puasa hari kesembilan, kesepuluh dan kesebelas, berdasarkan hadits, “Berpuasalah satu hari sebelum dan sesudahnya.”
b)    Puasa hari kesembilan dan kesepuluh, berdasarkan hadits, “Pada tahun depan insyâ Allâh, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (Muharam).”
c)    Puasa hari kesepuluh saja, berdasarkan hadits-hadits yang menegaskan perintah untuk berpuasa pada hari itu.[7]

Inilah petunjuk Rasulullah saw tentang Hari Asyura. Dari sini jelaslah sikap pertengahan Ahli Sunnah wal Jamaah. Mereka tidak meremehkan dan tidak pula berlebih-lebihan, tetapi berpegang teguh kepada petunjuk Rasulullah saw dan melaksanakan perintahnya untuk menggapai pahala.[]


Sumber : www.kiblat.net

———————————-

[1]  Muslim, hadits no : 1162
[2]  Bukhari, hadits no : 2006
[3]  Muslim, hadits no : 1162
[4]  Muslim, hadits no : 1134
[5]  Muslim, hadits no : 1134
[6]  As-Sunan Al-Kubra, karya Baihaqi, Kitab Puasa, IV/287
[7]  Zâd Al-Ma’âd, II/76; Fath Al-Bâri, IV/287

* Disadur dari Ensiklopedi Sejarah Dr Ali Ash-Shalabi oleh Agus Abdullah. Semoga Allah memberikan pahala jariyah kepada beliau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

SHARETHIS